Rabu, 09 November 2011

Motor Legendaris Honda CB 100

Bagaikan harta karun, sebuah tipe atau merek motor kerap kali diburu motormania di Tanah Air. Banyak hal yang melandasi itu. Bisa karena bentuknya yang unik, varian yang terbatas (limited) hingga bernilai sejarah tertentu bagi peradaban dunia.
Maka wajar kalo keberadaan jenis sebuah motor akan terus lestari hingga kini, diincar para kolektor atau pencintanya.
Nah, di Indonesia, juga punya kisah sendiri terhadap model sebuah motor, rilisan sebuah ATPM yang pernah ada atau masih jualan sampai saat ini dengan tipe terbarunya.

Nah, sekadar bernostalgia, di edisi ini, OTOMOTIF coba menelisik motor-motor yang pernah melegenda di negeri ini dan sampai saat ini masih dicari motormania. Okeh, sebagai awal, kita bahas Honda CB.


CB di Indonesia bermula pada era 1970-an, model pertama kala itu CB100 tipe K1. Idiom CB sendiri masih susah dicari. Literatur internet hanya menyebutkan kemungkinan nama CB diambil dari kata Circuit Breaker alias platina, sistem pengapian yang dipakai semua jenis CB di Indonesia.

Tapi riwayat motor yang lekuk bodinya cukup modern dipadu jok tebal dan aksen krom di beberapa bagian bodi ini tak pernah mati.

Kami pun menelusuri lewat bengkel yang kerap utak-atik motor sport ini. Dari sini dapat kabar, kalo dulu ada juga motor sport tipe C saja, yang terkenal C70 dan C90. Tapi masih mengandalkan sama-sama seri CB, hanya ada beberapa pilihan tipe mesin dari silinder tunggal, twins (walau lebih tepat 2 silinder segaris), sampai versi termewah, 4 silinder segaris berkapasitas 650 cc dan 750 cc. Hebatnya, Honda lebih memilih sistem kerja 4-tak daripada 2 tak. Terbukti hingga kini 4-tak jadi kepercayaan hampir semua pabrikan.

"Generasi satu silinder diawali mesin 100 dan 125 cc, hanya mengandalkan perbedaan tipe bodi," papar Nurdin Fajar Hidayat, pemilik bengkel Elza Motor di Jl. Lebak Bulus Raya No.111, Jaksel. Tipe bodi yang pertama dikenal publik, yakni K1 bermesin 100 cc, dilanjutkan seri K2 dengan pilihan tipe mesin 100 dan 125 cc.

Generasi selanjutnya digunakan tipe K3 atau akrab disebut Beo, ada juga tipe Gelatik. "Beo tipe CB100 hanya beda di kombinasi warna merah dan putih, di tangki ada logo CB. Sedang Gelatik, walau juga diambil dari CB100 tapi punya perbedaan kombinasi warna putih dengan aksen biru di tangki," lanjut mekanik yang ketularan CB dari ayahnya sejak kecil ini.

Selesai seri K3, CB merilis generasi K4 yang hampir mirip tipe GL, generasi setelah era CB berakhir. "Kapasitas mesin masih sama, tapi tangki sudah lebih panjang mirip GL. Keluar di tahun 1979-1980," urai ayah 2 orang putra ini. Baru seri K5 yang banyak disebut Honda GL karena sama persis, tapi masih punya kode mesin CB.

Memilih CB kudu detail dan teliti. Tiap generasi dan tipe hanya punya perbedaan minor change. Pastinya, semua mengandalkan mesin satu silinder, karburator Keihin 26 mm dan sistem pengapian platina. "Ada juga CB125 tipe CDL yang keluar 2 tipe, satu punya indikator rpm dan satu lagi gak ada. Sedang CB100 semuanya tak ada indikator rpm," ucap pria asli Jakarta ini.

Soal problem klasik, bisa dibilang CB relatif minim masalah. Hanya memang sistem platina yang dianut sudah termasuk uzur. "Biasanya ganti pakai CDI milik cucu buyutnya, Honda Tiger. Lebih mudah perawatannya," kata pria yang sudah 11 tahun buka bengkel spesialis CB sendiri ini.

Berminat menghidupkan legenda sport dahulu kala? CB pasti jadi pilihan menarik.

3 komentar:

  1. ada referensi bengkel di surabaya gan..?

    BalasHapus
  2. Ini kayaknya sebentar lagi mau di jual, barang kali ada yg minat??

    BalasHapus
  3. @Mas Hariyanto yang baik, banyak sih di surabaya cuman saya kurang cocok aja, saya biasanya klo masalah mesin saya bawa ke temen saya di daerah tuban.trims

    BalasHapus